Soal konflik Djarum Foundation dan KPAI, JPN : Jangan Naif lah

Kantorberita.co.id-Jakarta. Jaringan Pendidik Nusantara disingkat JPN, melalui Ketua Umumnya. Julia Putri Noor akhirnya angkat bicara terkait tindakan dan sikap dari Arist Merdeka Sirait Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak, terhadap PB Jarum, yang menghentikan pemberian bea siswa bagi tunas-tunas muda bangsa dibilang Bulu Tangkis untuk berprestasi.
Menurut Julia tindakan Komnas Perlindungan Anak itu adalah sebuah sikap yang gegabah, terburu-buru dan memiliki dampak besar bagi perkembangan pendidikan anak-anak di Nusantara.

“Tindakan Komnas Perlindungan Anak ini membawa bangsa kita mundur 20-30 tahun kebelakang. Saya tidak bicara soal benar dan salah. Karena jika kita masuk ke ranah itu akan terjadi perdebatan yang sengit dan panjang, apalagi sikap KPAI ini juga dilandasi undang-undang yang berlaku. Namun saya ingin menyoroti dampak dari sikap yang diambil oleh Komnas Perlindungan Anak terhadap Djarum Foundation, yang berimplikasi pada kemunduran pendidikan anak bangsa. Bagaimana tidak,? Sebagai Negara berkembang, Indonesia membutuhkan berbagai macam sumber dan support untuk membangun dan memajukan pendidikan di Bangsa ini. Persoalan dari mananya, bagi saya itu nomor sekian, tapi yang terpenting saat ini adalah, bagaimana pendidikan dan pembangunan terhadap anak, bisa dimaksimalkan dengan berbagai cara dan dengan cara apapun,” Ujar Julia berapi-api pada (11/9/2019) saat ditemui dibilangan Tebet Jakarta.

Julia yang digadang-gadang mendapat banyak dukungan untuk maju menjadi calon Wali kota Makassar ini, mengajak kita untuk mengingat sejarah kelam bangsa Jepang setelah dibombardir oleh Amerika Serikat dengan Bom Atom. Perintah pertama dari Kaisar Jepang saat itu adalah mengumpulkan semua guru dan siapa saja orang berilmu dan bisa mengajar, yang masih tersisa untuk membangun Pendidikan bangsanya yang hancur lebur diluluh-lantakkan oleh Bom atom Amerika.

“Seharusnya kita mengambil pelajaran dari kejadian itu, bagaimana gigih dan kuatnya tekad bangsa Jepang untuk membangun Pendidikan Bangsanya, yang hasilnya bisa kita lihat sama-sama pada hari ini. Bagaimana kita dan penduduk dunia melihat Jepang sebagai sebuah bangsa. Saat ini Jepang  Bangsa yang maju bukan? Korelasinya dengan kasus Komnas Perlindungan Anak dan Djarum Foundation dalam konteks kekinian, seharusnya Arist Merdeka Sirait juga berfikir realistis. Bangsa kita masih belum menjadi bangsa maju seperti Jepang. Sehingga dengan cara Apapun dan oleh siapapun, jika konteksnya adalah hal yang strategis dalam membangun pendidikan bangsa, maka persoalan teknis, regulasi dan industri yang ada belakangnya kita kesampingkan dulu. Sampai bangsa ini benar-benar mapan dan menjadi bangsa maju, baru kita boleh bicara soal pakem baku, jika belum, jangan Naif lah,” tukas Julia.


Pemberitaan dimedia Nasional sebelumnya mengatakan secara umum, bahwa tidak terbantahkan, penggunaan Brand Image Djarum dan Jersey yang dipakai anak sebagai peserta Audisi Beasiswa Bulutangkis Djarum yang diselenggarakan PB Djarum adalah iklan terselubung Rokok Djarum dan merupakan praktek eksploitasi terhadap anak yakni memanfaatkan anak untuk memperkenalkan kepada anak bahwa rokok adalah produk normal.

Sebelum menutup, Julia kembali berkomentar. “Saya tidak bicara Komnas Perlindungan Anak salah atau benar, atau Pak Arist Merdeka Sirait itu salah. Tolong jangan salah paham ya, karena dari awal saya tidak mau masuk ke ranah soal benar dan salah. Saya hanya merasa miris dan tergugah. Kok masih ada ya, pihak-pihak yang tidak senang atau berusaha menghambat kemajuan pendidikan anak-anak tunas bangsa di Indonesia,? Apapun alasannya.!” Pangkas Julia. (Aka)

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *