Calon Menteri Jilid II, PIB: Prof. San Afri Awang Orang Yang Kompeten

Kantorberita.co.id, Jakarta- Sejumlah relawan Presiden-Wakil Presiden terpilih Ir. Joko Widodo-KH. Ma’ruf Amin mengusulkan beberapa nama sebagai bahan pertimbangan Presiden-Wakil Presiden Jokowi-Ma’ruf untuk dijadikan Menteri di Kabinet Kerja Jilid II.

Seperti organ relawan Pilar Indonesia Bersatu (PIB) yang dipimpin oleh Ambar, dirinya telah menjaring sebanyak 8 peserta salah satunya yaitu Prof. Dr. Ir. H. San Afri Awang, M.Sc. Dalam sesi tanda tangan pakta integritas, Ambar mengatakan Prof. San Afri Awang merupakan seseorang yang sangat kompeten dibidangnya. Terlebih dirinya juga Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada (UGM).

“Pak Awang adalah orang yang memiliki segudang pengalaman dalam lingkungan hidup, dia merupakan orang yang kompeten dalam bidangnya, karena itu pak Awang lolos dalam penjaringan calon Menteri,” kata Ambar di kawasan Kuningan, Jakarta, Kamis (3/10/2019).

Ambar yang didampingi Sekjen Khoirul Amin, SH serta Ketua Panitia seleksi Ir. Arief Ikhsan, merasa perlu Indonesia membutuhkan sosok Prof. San Afri Awang. Lolosnya Prof. Awang, sambung Ambar, tak lepas dari profesionalitasnya. “Banyak calon yang masuk ke kita (PIB) namun dari rekam jejaknya ada yang bermasalah dan tidak memiliki kompetensi,” ungkapnya.

Dirinya juga menyebut ada juga calon dari milenial yang nantinya juga kita jaring. Namun Ambar masih merahasiakan calon tersebut, pokoknya dia itu pengusaha dan telah mengikuti Lemhanas, semua yang kita calonkan pastinya dari kalangan pribumi.

“PIB sebelumnya telah menjaring sebanyak 15 calon kandidat dalam Kabinet Kerja Jokowi-Ma’ruf Jilid II, tetapi tidak semuanya akan diloloskan, melainkan kita kerucutkan menjadi 5 calon,” sambungnya.

Sementara itu Ketua Panitia seleksi Ir. Arief Ikhsan menjelaskan, tentunya dari para calon yang telah mendaftar yang tidak diragukan lagi kredibelitas serta mumpuni dibidangnya seperti yang dipinta oleh Presiden.

“Sebelumnya kita tidak terpikirkan dengan hal ini, namun ketika pak Jokowi memberikan perhatian kepada relawan meminta relawan untuk mencarikan calon-calon yang nantinya membantu tugas Presiden, maka dari itu kita mengakomodir dan tentu tidak sembarang orang yang nantinya kita sodorkan untuk menjadi Menteri,” ujar Arief.

Sementara itu Prof. San Afri Awang ketika ditanya soal permasalahan Karhutla, Awang menilai Sumber Daya Alam (SDA) itu kan rahmat bagi Indonesia, jadi kita harus menjaganya lebih baik. Di dalam sumber daya alam itu pasti ada power, pasti ada aktor.

“Kalau political ekonominya pasti tarik-menarik, ketika sumber daya alam ditarik ke politik maka pasti ada kepentingan dan perlu kita kontrol kedepan. Gak boleh kita biarkan power terlalu kuat untuk memanfaatkan sumber daya alam tanpa kaidah-kaidah lingkungan,” ungkap Awang usai melakukan penandatanganan pakta integritas.

Oleh karena itu, sambungnya, sumber daya alam harus menjadi kekuatan ekonomi. Maka kedepan kita harus arahkan sumber daya alam ke ekonomi, tapi jangan merusak lingkungan. Masyarakat ataupun pengusaha yang ingin berkiprah di sumber daya alam, ikutilah kaidahnya.

Sedangkan kawan-kawan yang berada dalam politik, untuk mendukung kebijakannya. “Tantangan kita dari waktu ke waktu memang soal kebakaran hutan, dan tidak tunggal penyebabnya. Kita dipengaruhi oleh La Nina dan El Nino masalah lingkungan global,” tuturnya.

Prof. Awang menghimbau permasalahan Karhutla serta lingkungan hidup harus prefentif sifatnya, jadi jangan belum ada kebakaran kita terlena. “Setiap bulan Januari setiap tahun Pemerintah, NGO dan rakyat itu sudah harus bersiap diri, untuk menghadapi masa-masa kemarau,” tandasnya.

Negara yang memiliki APBN juga harus punya perhatian terhadap lingkungan dan kehutanan, jadi prefentif sifatnya pencegahan. Rakyat itu harus kita edukasi, biasanya rakyat punya masalah yaitu melakukan pertanian dilahan kering. Maka harus ada intervensi dari Kementerian Pertanian agar mereka permanen ‘agricurtule’. Jadi melakukan pertanian yang menetap, jangan berpindah.

“Kebakaran ini, salah satu penyebabnya juga karena usaha pertanian yang berpindah. Selain itu pengusaha mulailah sadar, jangan membangun kebun atau hutannya dari pembakaran teknologinya, jadi pengusaha juga harus prefentif,” tegas Awang.

Pengusaha jangan nakal, harus ikuti aturan main yang baik. Jangan membuat api untuk membuat kebun dan lainnya. Ini terjadi karena kesadaran hukum yang kurang. Dirinya mencontohkan dengan adanya kebakaran yang skalanya kecil, kemudian ditahun mendatang tidak jadi santai saja. Itulah penyakitnya.

Jadi dia tidak melihat hukum sebagai sesuatu yang ‘given’ mau ada kejadian El Nino atau tidak seharusnya dia siap. “Jadi semua lapisan harus sadar, seperti yang Presiden ucapkan ‘selagi api masih kecil padamkan’, itulah slogan Presiden yang harus diikuti karena tujuannya baik,” harapnya.

Saat disinggung soal pencalonan dirinya, awang mengatakan sebagai anak bangsa saya terpanggil untuk menyumbangkan pikiran, tenaga dan waktu. Apalagi kompetensi yang telah saya miliki untuk mengerjakan semua itu, tapi ini karena panggilan. Ada sesuatu yang harus dirubah dan disempurnakan, jadi yang sudah baik agar lebih baik lagi kedepannya.

“Seperti hal yang belum terselesaikan yaitu tanah objek reforma agraria, itu harus terus kita dorong. Kedua soal perhutanan sosial itu kita dorong juga, memang sudah ada tetapi kita akan realisasikan kekurangannya. Kemudian soal konservasi serta yang berkaitan dengan lingkungan hidup, misalnya tentang pengelolaan dan pengendalian sampah, kebersihan sungai juga daya dukung lingkungan hidup,” jelas Prof. Awang.

Agar kita mengetahui apakah Indonesia kekurangan air atau tidak, apakah lahan pertaniannya mencukupi untuk rakyat atau tidak. Kalau daya dukung lingkungan hidup, penyediaan air jadi kita kalkulasi semua, maka Indonesia membangunnya pasti pada pembangunan berkelanjutan.

Kita selalu menghadapi perubahan iklim, maka sumber daya alam yang masih baik kita jaga, jangan di eksploitasi, karena menanam lebih sulit daripada menjaga. “Bayangkan saja hutan tropis kalau sudah rusak, itu membutuhkan waktu paling sedikit 200 tahun untuk mengembalikannya, jadi bagaimana nasib anak cucu kita kedepan,” tukasnya. (El)

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *