Diskusi dan Deklarasi Pelajar Anti Kekerasan:’Mitigasi Terhadap Aksi Kekerasan, Anarkisme dan Politisasi Pelajar

Kantorberita.co.id, Jakarta – Maraknya demonstrasi yang terjadi akhir-akhir ini hingga memunculkan berbagai masalah yang menimbulkan beberapa kerusakan pada bagian infrastruktur, mengangu ketertiban umum baik lalu lintas dan lainnya, lebih mirisnya lagi aksi demo yang arogansi hingga melibatkan para pelajar dibawah umur.

Terkait hal tersebut, Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia (PW PII) DKI Jakarta mengelar acara diskusi publik bersama para pelajar yang tergabung serta dikemas dengan deklarasi Pelajar Anti Kekerasan, yang mengangkat tema, ‘Mitigasi terhadap aksi-aksi Kekerasan, Anarkisme dan Politisasi’.

Ketua umum PW PII Jakarta, Anja Hawari Fasya, menyatakan bahwa kegiatan ini di selenggarakan agar mampu sebagai sarana penolakan pelajar terlibat aksi-aksi kekerasan dan anarkisme, serta sebagai sarana penolakan terhadap politisasi pelajar dalam aksi unjukrasa.

“Kegiatan ini juga untuk sarana penguatan nilai-nilai pancasila dan kebangsaan bagi pelajar dan juga sebagai sarana dukungan pelajar untuk mengambil jalur konstitusional atau Judical Review dalam penyelesaian tuntutan penolakan UU dan RUU yang di permasalahkan,” ujarnya menjelaskan saat disela acara diskusi publik berlangsung di Sanggar Prathivi, Jakarta pusat, Selasa (15/10/2019).

Sementara, Dr. Suratno salahsatu panelis pemateri yang hadir dalam acara ini meng-apreasi digelar acara ini, dia pun mengatakan bahwa pihak para pelajar sebenarnya sangat rentan disusupi oleh berbagai pihak apalagi dalam melakukan aksi demo oleh beberapa kepentingan oknum yang tidak bertanggungjawab.

“Dengan memberikan pencerahan kepada pelajar seperti ini sehingga kedepannya keterlibatan mereka dalam berdemonstrasi di negara kita bisa akan lebih baik lagi, sehingga kemungkinan-kemungkinan seperti tawuran, dan seperti disusupi oleh pihak-pihak tertentu bisa di hindari, itu juga salahsatu tujuan dari kegiatan ini,” pungkas Suratno yang juga dosen di univeristas Paramadina menjelaskan.

Disisi lain, Wely Chandra
Salah seorang pelajar dari SMK Cilincing Jakarta utara yang berharap agar kerusuhan apalagi yang dilakukan pihak para pelajar supaya tidak pernah terjadi lagi. “Para STM agar belajar lebih baik lagi agar bisa sukses sesuai harapan keluarga, nusa dan bangsa,” ujarnya.

Berdasarkan pantauan, acara yang dihadiri kurang lebih ribuan para pelajar Se-Jakarta ini membacakan juga 6 poin kesepakatan bersama yang tertuang dalam teks deklarasi pelajar anti kekerasan yang dibacakan secara serentak, yakni;

1. Kami pelajar Indonesia menyatakan akan tetap setia kepada Pancasila.

2. Kami pelajar Indonesia menyatakan siap bergandeng tangan untuk membangun dan menyebarkan budaya serta etika kesopanan dan kedisiplinan dalam berdemokrasi.

3. Kami pelajar Indonesia menolak segala bentuk kekerasan dan anarkisme yang kerap terjadi dalam lingkungan sesama pelajar.

4. Kami pelajar Indonesia menolak dijadikan alat politik oleh oknum-oknum yang berkepentingan merusuhkan NKRI.

5. Kami pelajar Indonesia berkomitmen untuk terus menjaga tugas dan tanggung jawab kami sebagai pemengang estafet masa depan NKRI.

6. Kami pelajar Indonesia mendukung diambilnya jalur hukum berupa Yudicial Review ke MK dalam menyelesaikan masalah penolakan terhadap berbagai macam undang-undang dan rancangan undang-undang.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *