Rumah Anyo: Amanah untuk Anak-Anak Pengidap Kanker

Penulis : Muthia Razela

Pertemuan saya dengan perempuan inspiratif ini memang tidak semudah yang diharapkan. Terkendala agenda kegiatan kami masing-masing yang kerap bertabrakan, pertemuan pun dimundurkan beberapa kali. Pada Minggu (10/11), janjian bertemu di sebuah cafe kopi terkenal di bilangan Tangerang Selatan menjadi perjumpaan yang menyenangkan. Setidaknya bagi saya, yang memang mengharapkan pertemuan ini.

Beliau datang lebih dulu, sekitar lima menit sebelum saya tiba. Sore itu, Pinta Manullang-Panggabean, atau yang akrab disapa Mama Anyo, tampil bersahaja dengan kemeja biru dongker, celana panjang, dan sedikit aksesoris yang mebuatnya terlihat menawan. Senyum ramah dan kesan akrab menyambut ketika saya duduk dihadapannya. Saat itu, ia mengatakan sedang tidak enak badan, tapi tetap berusaha melayani permintaan saya wawancara.

Perbincangan sore itu begitu seru, betapa pun sesekali penuh haru. Ia bercerita tentang motivasi awalnya mendirikan Rumah Anyo, rumah sementara untuk anak-anak yang mengidap kanker.

Anyo adalah panggilan sayang Pinta untuk puteranya, Andrew Maruli David Manullang. Dua pekan sebelum Natal 2008, tepatnya pada 7 Desember 2008, putera pertama pasangan Pinta Manullang-Panggabean dan Sabar Manullang itu harus menyerah pada kanker darah yang dideritanya.

“Perjuangan Anyo dan segala daya upaya kami membantu kesembuhannya terhenti saat itu. Tuhan lebih sayang pada Anyo,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Pinta lantas menceritakan kisah Anyo sejak divonis leukemia hingga dijemput Sang Pencipta. Saat awal sakit, Anyo sama sekali tidak menunjukkan dirinya mengidap kanker darah. Bahkan beberapa dokter mengatakan Anyo sakit tifus. “Tapi tidak sembuh-sembuh. Tubuh Anyo malah semakin kurus. Kami jadi bingung,” ungkap Pinta.

Sampai datanglah vonis itu. Saat itu Anyo berusia 11 tahun dan masih duduk di kelas enam sekolah dasar. Diliputi kecemasan yang luar biasa, Anyo akhirnya menjalani observasi total di salah satu rumah sakit swasta di kawasan Cinere, Depok, Jawa Barat. Hasilnya cukup mengejutkan. Leukositnya sangat tinggi hingga mencapai seratusan ribu. Dari kondisi tersebut, diagnosis Anyo terkena leukemia sangat kuat. Tanpa pikir panjang, Pinta lalu membawa Anyo ke RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta.

RSCM saat itu sedang mengadakan kerjasama dengan Academisch Medisch Centrum (AMC) Belanda – semacam rumah sakit pendidikan di Indonesia – terkait dengan penanganan pengidap kanker.

Pada November 2000, Anyo diterbangkan ke Belanda untuk menjalani kemoterapi.
Total Anyo menjalani pengobatan di AMC sekitar 3,5 bulan. Setelah kondisinya membaik, dia diperbolehkan pulang ke tanah air untuk melanjutkan terapi dan melanjutkan sekolah ke bangku SMP.

Saat menyiapkan diri menghadapi ujian kelas 3 SMP, kondisi kesehatan Anyo turun drastis. Dia lantas diterbangkan kembali ke Belanda. Setelah beberapa bulan lebih lama tinggal di Belanda untuk menjalani pengobatan, Anyo diperbolehkan pulang karena kondisi kesehatannya membaik.

Namun, keadaan itu kembali berulang. Saat sedang menghadapi ujian akhir SMA, Anyo drop. “Dugaan saya, pemicunya karena Anyo stres. Sebab, dua kali dia drop ketika akan menghadapi ujian. Tapi, kata dokter bukan itu penyebabnya,” cerita Mama Anyo mengenang.

Tim dokter di Belanda menyarankan agar dia menjalani transplantasi stem cell (sel induk atau sel punca). Sel induk yang akan ditransplantasikan kepada Anyo adalah milik Andri Manullang, anak kedua Pinta.

“Si adik tidak keberatan, dia ikhlas demi membantuk kesembuhan kakaknya. Tanpa dipaksa tanpa dirayu,” kenang Pinta.

Tindakan transplantasi dilakukan pada 9 Mei 2007. Awalnya, transplantasi stem cell itu dinilai cukup berhasil. Kondisi Anyo terus membaik. Setiap tes kesehatan, komposisi sel darahnya normal. Anyo pun sempat mengenyam kuliah di Den Haag, Belanda.

Setahun kemudian, pada April 2008, kesehatan Anyo kembali menurun. Kali ini dokter sudah kehabisan cara. Sebab, transplantasi sel induk setahun sebelumnya dianggap sebagai upaya akhir. Anyo pun disarankan untuk menjalani kemoterapi umum.

Saran itu dijalankan Pinta. Dia membawa Anyo untuk menjalani kemoterapi yang sedianya berlangsung enam kali. Saat memasuki kemoterapi ketiga, leukemianya kambuh kembali, tubuhnya sudah tidak dapat menerima pengobatan lagi. “Saya harus legawa dan kembali harus menguatkan Anyo,” ucapnya lirih.

Melihat kondisi anaknya yang “tidak berpengharapan lagi”, Pinta sempat menawari Anyo untuk tetap dirawat di Belanda atau pulang ke Indonesia. Anyo pun seperti menyadari umurnya tidak lama lagi. Karena itu, dia memilih pulang ke tanah air. Pinta masih berusaha berjuang membantu kesembuhan anaknya dengan segala cara, termasuk memberikan donor darah yang berkualitas. Meski dokter memvonis usia Anyo tersisa 6 minggu, Pinta tidak menyerah.

Tidak ada usaha yang sia-sia. Anyo mampu bertahan lebih lama dari prediksi dokter. Betapa pun, ketetapan Tuhan juga yang menentukan.

Sebelum meninggal, Anyo sempat berpesan, jika ia tidak berhasil dengan metode pengobatan yang sedang dijalaninya, ia berharap anak-anak lain bisa berhasil.

Amanah sang anak itu kemudian menginspirasi Pinta untuk menolong anak-anak lain yang sedang berjuang melawan kanker melalui Rumah Anyo, rumah sementara bagi anak-anak pengidap kanker dari berbagai daerah yang memerlukan tempat tinggal sementara di Jakarta.

Nama rumah sementara ini memang sengaja menggunakan panggilan sayangnya kepada sang putera, untuk mengenang Anyo yang masih memikirkan nasib anak-anak lain yang tidak seberuntung dirinya yang bisa berobat sampai ke luar negeri. Sebab itulah semangat dan kepedulian Anyo ingin tetap disebarkan Pinta kepada anak-anak lain.

Setiap melihat anak-anak yang mengidap kanker di Rumah Anyo, Pinta mengaku sering teringat Anyo. “Tetapi saya tidak boleh menunjukkan rasa sedih kepada mereka,” kata Pinta.

Rumah sementara dua lantai bercat putih di kawasan Jalan Anggrek Nelli, Slipi, Jakarta Barat, itu memiliki banyak cerita. Rumah Anyo mulai beroperasi pada 27 Juni 2012. Berdiri di atas lahan sekitar 200 meter persegi, Rumah Anyo mampu menampung 18 pasien kanker anak beserta pendampingnya.

Perjuangan Pinta menyosialisasikan Rumah Anyo tidak mudah. Ibu tiga anak ini dengan sabar memperkenalkan Rumah Anyo kemana pun ia pergi. “Awal-awalnya secara bertahap mesti kerja keras untuk memperkenalkan Rumah Anyo itu apa ke masyarakat luas. Dan terus seperti itu sampai sekarang karena memang belum banyak yang tahu apa Rumah Anyo dan program lain dari Yayasan Anyo Indonesia (YAI),” jelas Pinta.

Semangat Pinta untuk terus menebar kebaikan dengan memperkenalkan Rumah Anyo tidak kenal lelah. Baginya, semakin banyak orang yang terbantu dengan keberadaan Rumah Anyo, maka bertambah pulalah semangat Pinta untuk terus membantu sesama yang membutuhkan. “Melihat senyuman manis dari pasien dan orangtua atau pendampingnya yang terbantu tinggal di Rumah Anyo jadi penyemangat untuk terus menerus berusaha menolong mereka yang membutuhkan tempat tinggal sementara. Hal itu yang sampai sekarang memotivasi saya dan membuat saya bahagia,” ujar Pinta.

Rumah Anyo menyediakan fasilitas untuk anak-anak. Bukan hanya mainan dan tempat tinggal, juga semangat dan kasih sayang. Beberapa kali Rumah Anyo ramai dengan kegiatan untuk menemani dan mengisi waktu anak-anak. Semisal acara mendongeng dan melukis bekerjasama dengan relawan.

Pasien kanker di Rumah Anyo umumnya berasal dari luar Jakarta. Antara lain Pontianak, Lampung, Batam, Bengkulu, dan Manado. Tetapi, pada kasus tertentu, ada juga pasien dari kawasan pinggiran Jakarta yang “terpaksa” menginap di Rumah Anyo karena pertimbangan penghematan biaya.

Rumah Anyo menjadi alternatif bagi pengidap kanker dari daerah karena lokasinya yang dekat dengan Rumah Sakit (RS) Kanker “Dharmais” serta RS Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita. “Tinggal jalan kaki saja sudah sampai di dua rumah sakit tadi,” jelasnya.

Rumah Anyo sama sekali tidak menjalankan fungsi layanan medis, melainkan hanya menampung sementara para pengidap kanker, khususnya anak-anak, yang sedang menjalani terapi di Jakarta.

“Misi kami menampung para pasien kanker adalah ingin membantu meringankan beban keluarga pasien selama berobat di Jakarta. Kasihan keluarga pasien. Sudah capek fisik karena harus ke Jakarta membawa anak mereka yang sakit, juga capek psikis. Mereka masih harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk mengobati anaknya,” paparnya.

Karena itu, Pinta tidak membebani pasien menginap seperti di hotel atau penginapan lain yang harganya bisa ratusan ribu sampai jutaan rupiah semalam. Di Rumah Anyo, jika mampu, penghuni hanya membayar biaya administrasi saja.

“Sengaja kami meminta tarif lima ribu rupiah, supaya ada sense of belonging. Supaya semua sama-sama merasa memiliki dan menjaga Rumah Anyo,” terang Pinta.

Belajar dari apa yang dialami Anyo, Pinta dapat memetik nilai positif. Dia harus menghargai proses, sedangkan urusan hasil akhir bukan wewenang manusia.

“Saya sering berpesan kepada orang tua pasien agar kooperatif dengan dokter yang merawat anak kita,” tegasnya.

Misalnya, ketika dokter bilang harus segera dibiopsi (pengangkatan sejumlah jaringan tubuh untuk cek laboratorium), orang tua sebaiknya tidak menunda-nunda. Hal itu dilakukan supaya dokter dapat menentukan dengan tepat terapi yang akan diberikan.

Upaya Pinta membantu pengidap kanker tak berhenti di Rumah Anyo. Ia kerap berkeliling ke berbagai daerah untuk memberikan edukasi tentang penyakit kanker, khususnya yang dialami anak-anak. Ia berharap upaya ini akan banyak anak yang diduga terkena kanker dapat ditemukan pada kondisi yang dini, agar dapat diselamatkan. Dalam setiap aktivitasnya, Pinta didampingi dokter khusus kanker anak dari Jakarta.

Sayangnya, menurut Pinta, jumlah dokter ahli yang berkompeten menangani pasien kanker anak-anak di Indonesia masih minim. “Jumlahnya berkisar 70 orang. Itu pun terpusat di kota-kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, Surabaya. Ia berharap ada lebih banyak dokter dan rumah sakit kanker khusus anak.
Meski begitu, dia bertekad untuk terus mengembangkan fungsi Rumah Anyo sebagai rumah sementara bagi anak-anak yang mengidap kanker.
Anyo adalah salah satu contoh yang diberkahi Tuhan untuk kita resapi bahwa hidup bukan persoalan panjang atau pendek, melainkan seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan kepada orang lain. Anyo dan Rumah Anyo setidaknya telah menunjukkannya.
Pesan Pinta, “jangan libur bersyukur, karena apa pun yang kita alami adalah bentuk kasih sayang Tuhan. Tuhan turunkan banyak malaikat tak bersayap yang akan membantu kita melewati semua badai kehidupan,“ tutup perempuan inspiratif ini sambil tersenyum.

#AksiHidupBaik yang dilakukan Pinta Manullang-Panggabean untuk anak-anak pengidap kanker adalah bukti nyata pengorbanan, kasih sayang, dan cinta seorang ibu.
Ikuti cerita #AksiHidupBaik lainnya di akun Youtube dan Instagram @ibu.ibukota.

 

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *