FIS Apresiasi Pemerintah Tolak Pulangkan Eks ISIS

Kantorberita.co.id, Jakarta- Pemerintah telah memutuskan untuk tidak memulangkan eks ISIS ke Indonesia.

Hal itu diamini oleh Forum Indonesia Satu (FIS), dalam pesannya ketua FIS Ir. Arief Ikhsan mengatakan, pemulangan eks WNI Kombatan ISIS bukan tanggung jawabb pemerintah lagi. Mereka seharusnya mempertanggungjawabkan perbuatannya, dan mereka (eks ISIS) ada di Suriah, sehingga wewenang Suriah untuk menghukum.

“Tapi menurut kacamata saya, ada skenario Amerika untuk mereka dipulangkan kembali ke negara masing-masing, supaya bisa berkembang biak dan ada alasan Amerika untuk membasmi negara berikutnya, termasuk Indonesia,” kata Arief, Rabu (12/2/2020).

Dirinya juga menjelaskan, semua orang kembali terusik atas pemulangan eks WNI ISIS bener kan? Kita lupa, terorisme tidak ujug-ujug jadi begitu saja, tapi ada proses dan tahapan yang dilalui, harusnya kita fokus di ranah penyebab yaitu ideologi atau pemahaman yang intoleran.

“Proses radikalisme menjadi teroris berawal dari intoleransi atau menganggap orang lain yang berbeda adalah salah, dia benar apabila sesuai dengan dirinya. Paham ini masuk NKRI sejak 80-an yaitu Salafi, Wahabi yang gampang membidahkan dan memusyrikan karena berbeda,” bebernya.

Paham atau ideologi Salafi, Wahabi di sebar hingga seluruh dunia tidak hanya di NKRI, paham inilah yang menjadi bahan baku bagi munculnya kelompok radikal dan teroris. Paham skriptualistik dengan menggunakan argumentasi kembali ke Alquran dan Hadits.

Salafi, Wahabi terbagi menjadi 3 jenis, pertama salafi dakwah dimanapun mereka tinggal mereka tidak akan melawan pemerintah, namun ajarannya jelas intoleran. Di NKRI salafi ini populer dikalangan para artis dan Islam kota, dengan ciri berjenggot, cingkrang dan jidat hitam.

“Salafi wahabi sururi, tahun 79 terjadi penguasaan Masjidil Haram oleh Juhaiman Atuwaibi dengan cara kekerasan senjata, mereka protes terhadap kerajaan saudi karena dianggap sudah keluar dari nilai-nilai aqidah murni Salafi, Wahabi. Tujuannya politik mendirikan negara Salafi, Wahabi. Di NKRI ada dan berkembang.

Ketiga Salafi Wahabi jihad, representasinya adalah Al-qaida atau JI di NKRI dan ISIS sekarang ini, aqidahnya jelas takfiri dan jihad qital kepada orang yang menolak dan berbeda dengan mereka.

Arief berharap, “Pemerintah tidak hanya fokus terhadap wacana pemulang eks ISIS, tetapi juga mewaspadai dan menghambat perkembangan paham intoleran dan radikal di NKRI, kalau akarnya dibiarkan maka akan semakin banyak ISIS lahir dari bumi pertiwi,” ujarnya.

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *